Gerimis
di antara gigil yang ganjil dan malam yang demam
awan lebam itu melahirkan isak kecil yang meriak
tumpah sebagai ludah yang mengucapkan banyak kecupan
yang rawan, barangkali kecemasan yang tak takluk jua
yang bersua tak berpeluk, meruncingkan jarum-jarum es terkutuk
meski bagimu gerimis adalah air mata yang mengaji ketika
malam-malam yang diam itu merendam dendam langit
yang beringas pada angka duabelas, gerimis adalah bukti
tuhan tak pernah tidur
ia hadir pada tiap helaan yang mengendur
terusik oleh yang tersuruk, kita melompati nasib
seakan paling tahu hal-ihwal gaib
padahal telah lama iman yang membusung di dada limbung dan raib
tapi apakah aku harus menyerah sekiranya takdir menggiring galau
menghentak ke dadaku yang balau
amsal pisau yang mengiris tipis kulit limau?
tentu tidak, aku tak perlu mengambil pusing sememangnya waktu
menjelma angkara—merunggas hajat
hanya sampai pada hatiku, riwayat tubuhmu yang tersirat di ribaanku mulai menyebat
serupa tumpahan gerimis nan melarat di punggungku yang amis,
yang tak kunjung menyurat sebagai ayat-ayat yang mungkin bisa kaubaca ketika menangis
lalu bacalah kembali ketika berbahagia. sebab hanya dengan itu aku bisa
menyentuhmu, pula mencecap perasan perasaan pada bibirmu yang kelu
dan misalkan setelahnya langit tak mewartakan apa-apa, maka biarkan matamu
yang muskil kuselami menakwilkan kematianku
Pekanbaru, 2015
Ziarah
Kepada Nurdiansyah Oemar
di marpoyan, sunyi meruapkan udara
yang muskil dihirup pohon-pohon bedaru
bangkai lokomotif rel-rel berkarat
mengerat masa lampau di ujung igau
dengan pisau asahan yang berkilau
yang kalau diacungkan membikin risau
“aku pernah membaca cerita orang sini,” katanya
“aku tak pernah mendengar angin bernyanyi,” kataku
tanah yang kemerahan pun dicecapnya yang jatuh cinta pada cermin
dalam diam kami menalikan ucapan dari sulur pikiran yang tersulut
tanah yang kemerahan, bekas luka itu seolah membaur
ketika gerimis baru reda, dan dipungut dengan tangannya
yang dingin, yang dipenuhi jejak masa silam
“tetapi, hari itu, entah hari apa
september yang lumer, agustus yang hangus
menghadiahkan kado berpita putih
kepada indonesia yang merdeka!
sepuluh ribu atau lebih
sampah itu dikubur dalam semak-semak
yang kerap terkesiap setiap jangkrik berkerik”
lalu kata-kata yang semula merdeka
seperti terkubur di liang bibir
Pekanbaru, 2015
Rabas
setelah hujan reda dan mendung menyingkir
apa yang hendak kau lakukan, jika genangan air
di jalan berliku belum jua mahir
menakwil masa lalu
daun-daun nan basah, berkulumun halimun di tubuhnya
angin berdesir menyejukkan tengkuk kanak-kanak
yang berkecipak di genangan air, mengalir
hingga ke inti benakmu
kanal-kanal membandang. tepat di belakangmu aku
merasa sedang membendung segala yang tak tertampung
gedung-gedung, hutan-hutan terbakar dan yang tak pernah
mampu dikandung rahim matamu
renyai baru usai 7 menit lalu. namun langit tetap sirah
dedaunan yang gugur seolah penanda bahwa, kehilangan
semestinya harus dirayakan
dan aku yang masih belum mahfum, mengapa hingga saat ini
kau masih memalingkan pandang pada dangkal kebimbangan
Pekanbaru, 2015
Ronda
Kepada Patra Hafiz
mari kuantar kau berkeliling, sebelum pulang
dan atau langit menjadi lebih pengap. aku ingin
kau tahu, bahwa dini hari yang asin adalah
cermin bagi kita yang terus dilumat kemunafikan
lalu biarkan dingin itu menggigit, lesap, ke pangkal
terdangkal—hingga ke bagian yang tak tersentuh
agar bisa kau rasakan, nyeri dan ngilu yang ambigu
meliarkan lidahnya kembali
seperti tubuh si jangkung pada tiap-tiap gang dan simpang
terkungkung oleh bunyi sunyi dan goresan parang
lolongan anjing, daun-daun dirontokkan angin
lampu-lampu yang tergantung berkelap-kelip
dengan langkah goyah kau ikuti aku melompati
genangan air, kenangan yang tercermin dari sana
memunggah hasrat yang tercemar dari sukma
“lihatlah, taring malam yang terbenam mulai meriap
mari tanggalkan jubah kebencian
dan tinggalkan dunia yang telanjang!”
derak kayu menuntut. aku menuntunmu memasuki
gerbang subuh yang menganga, penuh oleh doa
telah kusiapkan peti mati bagi hatimu yang pucat
jauh sebelum aku menangkap garis wajahmu
kesangsian yang menyembul kala gerimis sukar dijinakkan
Pekanbaru, 2015
Bunga
hingga kini, bunga-bunga yang tertata rapi
pada rak itu tak jua mengerti:
masa silam, atau masa depan yang membawanya pergi?
Pekanbaru, 2015
Doa
aku ingin tuli saja, tuhan
mendengar hanya membikin
dadaku giat membatin
bibirku mencibir rutin
tuhan, dengarlah ini doa
atau kita bernasib sama?
Pekanbaru, 2015
Minggu, 20 September 2015
Selasa, 19 Mei 2015
Beberapa Puisi di Riau Pos, 17 Mei 2015
Bermain Gitar
/1/
sebelum benar-benar terlarut oleh malam
ia pantik api, membakar berkas-berkas
yang tertata rapi di kehidupan lampau.
“sunyi ini, bercangkir-cangkir kopi
serta derau gerimis yang meracau!”
tidak ada penyesalan, katanya tak lama
menjinjing gitar dan meningkap jendela
berembun. desau angin seolah menangkap
hangat tubuhnya, membiarkan sekujurnya
menggogoh, seumpama kamar itu.
/2/
gitar tetap dimainkan, tapi ia masih bingung
adakah chord yang mampu melengkapi
kekalutan hatinya? melengkapi malam yang
terlanjur basah, membuat tubuhnya bersuhu
rendah, dan mengidap penyakit parah.
/3/
matanya serupa jendela malam ini. lembab dan
begitu rabun. ia seperti melihat, seorang wanita
dengan lekuk tubuh dan wajah yang sangat ia
kenali. jika ia sendiri, apa semata halusinasi?
/4/
pada petikan pertama, nada begitu sumbang. di
kepalanya telah hilang sebercak ingatan. ia coba
mengingat, masa silam paling manis, kisah yang
membuatnya pangling, hatinya luruh teriris.
seorang gadis pernah mengesahkan:
lagu-lagu romantis semata pemanis bagi kelengangan.
kenalilah dirimu dari senandung paling mendung.
kenanilah, mendung itu, langit-langit matamu dan yang menadah hujan tak berkesudahan.
hujan itu penuh rahasia, di antara riciknya, adakah yang kau tangkap?
sememang ia langit, musim akan terus basah
di sebalik pintu orang-orang akan berkeluh-kesah
tetapi bagi yang lemah syahwatnya akan berlari
menari-nari dalam irama hujan yang acak.
/5/
pada petikan kedua ia seperti menemui kembali
jati dirinya. berdenting nyaring senar gitar, semakin
nanar matanya berbinar. tetapi ia tetap ragu, seakan
masih ada yang tertinggal di masa lalu, dan sangat
ingin ia bawa.
malam semakin larut. jika kali ini listrik mati, tentulah
ia takut. akan ada banyak kenangan yang menerang-
temarang, yang bakal menguji syahwatnya, sekali lagi.
/6/
ia membayangkan, bagaimana perasaan kura-kura
terjebak di kabin sampan, atau katak yang terkurung
dalam tempurung. ia merasa—dirinya—seumpama
burung dalam jeruji besi, namun tidak merasa dilindungi.
/7/
di petikan selanjutnya ia mulai terbawa suasana. ada
yang kembali hidup dalam dadanya. rasa itu, kian
menumbuh dan bertambah seiring petikan-petikan
yang diguratkan.
/8/
kini, setiap kali bersedih, ia ambil gitar dan mengulangi kesakitan itu.
Pekanbaru, 2014.
Amnesia
Adalah duka teramat panjang ketika kau terjaga
sembari meraba wajah sendiri. Di mana
letak luka kering, kita coba tanggalkan
tukaknya. Terjejak jua kulit,
terkelupak rasa sakit
Malam legam. Listrik padam seolah menyalakan
kenangan, tentang bau obat nyamuk,
serta dengungnya yang
sesekali kita tepuk
Ingatkah engkau, di Anjungan, ricik gerimis
yang kita hitung, puisi-puisi dini nan
kontan keluar dari bibirku, belum
jua mampu menggenapi identitas
yang hilang, dari kota ini!
Pekanbaru, 2014.
Menunggu Pagi
Sebentar lagi pagi. Aku tahu kau masih
terlelap dan dipenuhi mimpi. Di sini,
malam seolah mengancam, dengan
jarum sunyi; merajut maut
Kau tahu, tadi malam, langit meminjam
cahayamu. Berkali-kali aku mengusap mata
kusaksikan, pepohonan seumpama gaun
yang terkebas angin
Seorang muda melintas. Tangannya gemetar
tubuhnya canggung. Raut wajahnya seolah
berkisah, ada langit lain yang tengah bersedih
kemudian kosong, hingga pagi tiba,
dengan ingatan baru.
Pekanbaru, 2014.
Dare Devil
Dari belakang muncul cahaya, memanjang
dan menantang matahari pukul sebelas. Membesar
dan melebar. Kaukah itu, Buldozer? Maka
menyautlah dengan lantang, sebelum tongkat
tirusku menjadi senjata yang bakal membelah senja.
Aku datang dari lobang hitam. Barangkali
aku dewa atau polisi negara. Sementara
sekumpulan kau semata pemuda renta
penunggu masa tua.
Rajawali dan elang adalah muridku. Mataku
tembus pandang. Aku bisa melihatmu telanjang
hingga tulang. Tapi sungguh, tak ingin aku angkuh
tersebab aku bukan pembunuh.
Dengan sisa nafas yang berdengus aku melompat
dan meraba ke segala tempat. Berjalan atau tiarap
bagiku sama saja—gelap.
Kausebut aku pahlawan debut tersebab membabat
para penjahat. Panggil aku sesukamu
agar denyar dalam dadamu tak menciut
biar nadimu tak henti-henti berdenyut.
Lalu sekumpulan kau yang lain menyumpahku
dengan pahit. Memata-mataiku sehingga sulit
bagiku mengenakan identitas palsu. Kemudian
kalian lupa, betapa akulah titisan Musa. Berkelit
dan meninggi
menembus langit.
Baiklah, pada akhirnya terlupalah aku
ketika jutaan kalian turut serta menjadi
pahlawan dengan beragam pakaian
membubuhkan tongkat ke ufuk pagi
yang kautakwil
umpama mati.
Pekanbaru, 2014.
/1/
sebelum benar-benar terlarut oleh malam
ia pantik api, membakar berkas-berkas
yang tertata rapi di kehidupan lampau.
“sunyi ini, bercangkir-cangkir kopi
serta derau gerimis yang meracau!”
tidak ada penyesalan, katanya tak lama
menjinjing gitar dan meningkap jendela
berembun. desau angin seolah menangkap
hangat tubuhnya, membiarkan sekujurnya
menggogoh, seumpama kamar itu.
/2/
gitar tetap dimainkan, tapi ia masih bingung
adakah chord yang mampu melengkapi
kekalutan hatinya? melengkapi malam yang
terlanjur basah, membuat tubuhnya bersuhu
rendah, dan mengidap penyakit parah.
/3/
matanya serupa jendela malam ini. lembab dan
begitu rabun. ia seperti melihat, seorang wanita
dengan lekuk tubuh dan wajah yang sangat ia
kenali. jika ia sendiri, apa semata halusinasi?
/4/
pada petikan pertama, nada begitu sumbang. di
kepalanya telah hilang sebercak ingatan. ia coba
mengingat, masa silam paling manis, kisah yang
membuatnya pangling, hatinya luruh teriris.
seorang gadis pernah mengesahkan:
lagu-lagu romantis semata pemanis bagi kelengangan.
kenalilah dirimu dari senandung paling mendung.
kenanilah, mendung itu, langit-langit matamu dan yang menadah hujan tak berkesudahan.
hujan itu penuh rahasia, di antara riciknya, adakah yang kau tangkap?
sememang ia langit, musim akan terus basah
di sebalik pintu orang-orang akan berkeluh-kesah
tetapi bagi yang lemah syahwatnya akan berlari
menari-nari dalam irama hujan yang acak.
/5/
pada petikan kedua ia seperti menemui kembali
jati dirinya. berdenting nyaring senar gitar, semakin
nanar matanya berbinar. tetapi ia tetap ragu, seakan
masih ada yang tertinggal di masa lalu, dan sangat
ingin ia bawa.
malam semakin larut. jika kali ini listrik mati, tentulah
ia takut. akan ada banyak kenangan yang menerang-
temarang, yang bakal menguji syahwatnya, sekali lagi.
/6/
ia membayangkan, bagaimana perasaan kura-kura
terjebak di kabin sampan, atau katak yang terkurung
dalam tempurung. ia merasa—dirinya—seumpama
burung dalam jeruji besi, namun tidak merasa dilindungi.
/7/
di petikan selanjutnya ia mulai terbawa suasana. ada
yang kembali hidup dalam dadanya. rasa itu, kian
menumbuh dan bertambah seiring petikan-petikan
yang diguratkan.
/8/
kini, setiap kali bersedih, ia ambil gitar dan mengulangi kesakitan itu.
Pekanbaru, 2014.
Amnesia
Adalah duka teramat panjang ketika kau terjaga
sembari meraba wajah sendiri. Di mana
letak luka kering, kita coba tanggalkan
tukaknya. Terjejak jua kulit,
terkelupak rasa sakit
Malam legam. Listrik padam seolah menyalakan
kenangan, tentang bau obat nyamuk,
serta dengungnya yang
sesekali kita tepuk
Ingatkah engkau, di Anjungan, ricik gerimis
yang kita hitung, puisi-puisi dini nan
kontan keluar dari bibirku, belum
jua mampu menggenapi identitas
yang hilang, dari kota ini!
Pekanbaru, 2014.
Menunggu Pagi
Sebentar lagi pagi. Aku tahu kau masih
terlelap dan dipenuhi mimpi. Di sini,
malam seolah mengancam, dengan
jarum sunyi; merajut maut
Kau tahu, tadi malam, langit meminjam
cahayamu. Berkali-kali aku mengusap mata
kusaksikan, pepohonan seumpama gaun
yang terkebas angin
Seorang muda melintas. Tangannya gemetar
tubuhnya canggung. Raut wajahnya seolah
berkisah, ada langit lain yang tengah bersedih
kemudian kosong, hingga pagi tiba,
dengan ingatan baru.
Pekanbaru, 2014.
Dare Devil
Dari belakang muncul cahaya, memanjang
dan menantang matahari pukul sebelas. Membesar
dan melebar. Kaukah itu, Buldozer? Maka
menyautlah dengan lantang, sebelum tongkat
tirusku menjadi senjata yang bakal membelah senja.
Aku datang dari lobang hitam. Barangkali
aku dewa atau polisi negara. Sementara
sekumpulan kau semata pemuda renta
penunggu masa tua.
Rajawali dan elang adalah muridku. Mataku
tembus pandang. Aku bisa melihatmu telanjang
hingga tulang. Tapi sungguh, tak ingin aku angkuh
tersebab aku bukan pembunuh.
Dengan sisa nafas yang berdengus aku melompat
dan meraba ke segala tempat. Berjalan atau tiarap
bagiku sama saja—gelap.
Kausebut aku pahlawan debut tersebab membabat
para penjahat. Panggil aku sesukamu
agar denyar dalam dadamu tak menciut
biar nadimu tak henti-henti berdenyut.
Lalu sekumpulan kau yang lain menyumpahku
dengan pahit. Memata-mataiku sehingga sulit
bagiku mengenakan identitas palsu. Kemudian
kalian lupa, betapa akulah titisan Musa. Berkelit
dan meninggi
menembus langit.
Baiklah, pada akhirnya terlupalah aku
ketika jutaan kalian turut serta menjadi
pahlawan dengan beragam pakaian
membubuhkan tongkat ke ufuk pagi
yang kautakwil
umpama mati.
Pekanbaru, 2014.
Selasa, 05 Mei 2015
Kematian Zombigaret
i
Aku tak menyangka hasilnya akan sebegini
parah. Tak kukira, hanya dengan mengisap ‘barang’ yang tak asing bagi orang-orang
itu, aku akan bertemu malaikat. Ya, aku bertemu malaikat pada setiap kali
tarikannya. Sosoknya yang putih tak jelas itu, seakan ingin merenggut nyawaku.
ii
Aku memang jarang keluar dari sepetak
kamar ini. Keluar pun, paling hanya membeli keperluan perbekalan: makan, minum,
dan ya, sebungkus rokok. Aku penulis. Aku menulis banyak hal, dan dengan mengisap
rokok aku mengepulkan semua kenangan untuk dituntaskan.
iii
“Pola hidupmu kacau-balau. Hidup adalah
juga pilihan. Jika ingin terus meregang nyawa, maka lebih baik kau tancapkan saja
pisau ke dada!” Malaikat itu menyapa. Aku sering bertemu malaikat. Sudah kukatakan,
ia selalu menampakkan diri pada setiap tarikan dan hembusan asap yang
kuguratkan.
iv
Tapi
malaikat sangat terlambat. Aku telah dulu berpenyakitan. Tenggorokanku hancur.
Paru-paruku bolong. Mulutku terbakar. Aku hidup yang mati. Aku bukti nyata dari
awal mula kehancuran manusia.
v
Aku menulis karena telah dibungkam. Dibungkam
penderitaan. Aku telah dikutuk oleh bahan pabrikan itu. Berbatang-batang rokok
yang nantinya akan menjelma nisan di atas kuburanku. Kini, aku mencanduinya. Kini
akulah penderitaan itu!
vi
“Jadi, kau betah dengan ini semua?”
Malaikat itu tersenyum kecut. Tangguh juga ia, setelah sekian lama kuabaikan.
“Kau. Hanya kau yang membuatku tak
betah.”
“Aku di sini untuk menolongmu. Tak kuasa
aku menatapmu! Tubuh tirusmu, suara serakmu, batuk-batuk itu, adakah kau merasa
nyaman dengan itu?”
Kesal. Aku pun beranjak dari ranjang, membukakan
pintu agar ia keluar.
vii
“Jadi, Zombi itu benar-benar ada?”
“Ada! Ia tinggal di kontrakan nomor 11!”
“Hah?! Pengisi rumah kecil yang tak
terurus itu? Apa betul ia Zombi?!”
“Lebih parah! Bukan sekadar Zombi! Yang
ini Zombi Garet!”
viii
Orang-orang mulai gelisah. Mereka mulai
takut melihatku, berpapasan denganku, dan segala kegiatan yang mendekatkanku
dengan mereka. Aku dimusuhi. Rumahku dilempari. Aku pernah mendapat surat
berisi: “Dunia hanya untuk orang bernyawa,
akhirat untuk orang mati. Kau, yang tak jelas keadaannya lebih baik bikin dunia
sendiri!”
Aku tak berhak hidup, kata mereka. Padahal
malaikat selalu menyerukan satu jalan yang lurus padaku.
ix
Akhir-akhir ini malaikat
sudah jarang menemuiku. Aku tak tahu alasannya, mungkin ia kecewa dan pasrah
lalu memilih bergabung dengan orang-orang yang menentangku. Tapi tak apa. Aku
telah terbiasa kehilangan. Apalagi ia cuma malaikat tak jelas yang kerap
menggangguku.
x
“Kabarnya Zombi Garet di kontrakan nomor
11 sudah mati ya, Bu?”
“Wah,
beneran tuh? Bagus deh, saya kira
makhluk seperti dia akan hidup abadi. Hahaha..”
“Iya,
Bu. Bahkan Polisi sudah menjadikan rumah itu sebagai TKP. Menyelidiki modus
kejadiannya!”
“Halah,
paling juga bunuh diri! Ngapain
dipikirin!”
xi
Aku
akan mati. Kurasakan asap mulai merunggas kehidupanku. Aku serupa langit yang
dipenuhi polusi. Kurasakan, maut itu, mulai memilin dadaku. Tak jarang aku
terbatuk dan mengeluarkan darah. Tak jarang dadaku sesak dan sulit bernafas. Aku
takut. Aku takut jika nantinya malaikat akan kehilanganku, dan ia takkan lagi menemui
seseorang yang pantas dinasihati sepertiku.
xii
Selasa, 6 Mei 2015—Malaikatku, adakah kau temukan catatan ini? Aku merindukanmu.
Ternyata, rindu sangat menyakitkan, ya.
Semoga kau tak merasa kehilangan atas ini. Aku tak pernah mati. Aku hanya
dilahirkan kembali ke dunia selanjutnya, meski dengan cara yang tak kau sukai. Maafkan
aku, di ambang kematianku saat ini, aku baru menyadari kau mencintaiku. Aku juga
baru sadar rasa sebuah kehilangan. Apakah
kehilangan termasuk rasa cinta? Semoga kita bertemu di lain waktu.
***
Kamis, 30 April 2015
Siksa Kubur
“Aku yakin ada yang
mendorongku!”
“Tapi ‘kan waktu itu kau
tengah sendiri. Jujur sajalah, sebelum cambuk ini kulecutkan lagi padamu!”
“Ah, tahu dari mana kalian,
bahkan saat itu kalian pun tak ada di sana!”
“Mana ada maling yang mau ngaku!”
Lekatlah cambuk itu ke
kulitku berulangkali, secara bergantian, kedua malaikat itu seperti meluapkan
nafsunya yang selalu terpendam selama ini. Padahal aku tak berbohong bahwa ada
yang mendorongku ketika itu. Walau orang-orang menyangka aku bunuh diri karena
hampir gila, menyangka aku stress akibat terus-terusan merevisi skripsi yang
tak kunjung diterima oleh dua orang dosen pembimbing yang lebih mirip setan
itu. Tapi, aku yang menuntut ilmu di salah satu universitas islam tak pula
mungkin berani bunuh diri setelah tahu apa-apa saja ganjaran yang diberikan
untuk sesuatu yang bodoh dan mengerikan itu. Tapi, kedua malaikat yang tak
jelas bentuk wajahnya itu, tak jua percaya dengan apa yang kukatakan. Apakah
peradilan di hari penghakiman ini tak ada bedanya dengan yang ada di dunia?
Seenaknya main hakim sendiri, tanpa tahu sumber masalah seperti apa dan
bagaimana. Ya, walau mereka malaikat yang kabar burungnya sangat taat kepada Tuhan,
tapi tetap saja, mereka tak lebih dari manusia biasa, main hakim sendiri, seenaknya
melecut tubuhku yang dikafani tanpa bukti.
Aku berteriak sangat kencang
setiap kali lecutan-lecutan itu lengket di tubuhku. Aku tak tahu, apakah makam
sebelah mendengar, atau ia jua mendapati siksaan yang sama. Atau orang-orang
yang berjalan di jalanan dekat bergidik bulu kuduknya dan berlari secepat
kilat. Yang kutahu hanya tubuhku mulai merekah dan bersimbah darah, lalu
kembali seperti semula dan kembali memerah hingga mereka mendapatkan jawaban
yang mereka inginkan.
“Mengaku sajalah kau, agar
tak kami buat lebih menderita!” ucap Munkar gahar. Di sisinya Nankir terbahak
tersedak-sedak.
“Aku tak akan mengakui apa
yang tidak kuperbuat. Siksalah sampai aku mati berkali-kali!”
“Pekerjaan kami tak cuma
mengurusmu, tolonglah, berikan pengakuan sebelum Tuhan memanggil kami kembali.”
Aku terbahak mendengarnya.
Tak kusangka, bahkan pekerjaan yang diemban oleh malaikat pun memiliki tenggat
waktu. Tapi sungguh, aku tak berbohong hal-ihwal musabab kematianku. Aku tak
akan mengambil jalan bunuh diri jika hanya karena terus merevisi skripsiku
berulangkali. Terlebih, keyakinanku akan dua orang dosen yang ‘kucintai sampai
mati’ itu pastilah bosan jika harus berhadapan denganku setidaknya sekali dalam
sebulan.
***
Orang-orang mengenalku
sebagai aktivis aktif jalanan yang telah mahfum dalam demo-demo yang tak jarang
berakhir anarki. Ditambah lagi tempat singgahku di kota ini adalah perumahan
kontrakan bagi para mahasiswa-mahasiswa di kampus. Tak jarang aku dan organisasi
berkumpul di kontrakan untuk membahas hal-hal yang perlu dibilas, kadang juga
merayakan keberhasilan atas demo-demo kami yang berhasil menjatuhkan
tikus-tikus berdasi keparat itu. Bahkan terkadang ada yang dari mereka memilih
menginap untuk berdiskusi panjang hingga pagi menjelang. Mereka tentu tahu,
seseorang dengan niat dan tekad kuat seperti aku ini tak akan sedikit pun
memikirkan kematian, apalagi bunuh diri. Seperti pada kasus ketika aku dan
kawan-kawan merusak kantor gubernur akibat kelalaiannya dalam menjalankan
tugas. Bukannya mengurusi rakyat miskin, malah menguras ‘isi kolam’ itu
sendiri. Kami sampai-sampai diberi tembakan peringatan oleh kepolisian, dan tak
hanya itu, kami terus melawan hingga beberapa dari kami ditangkap dan
terbungkam di sel tahanan. Namun untungnya aku berhasil lolos di antara gas air
mata yang memedihkan itu.
Dilahirkan di kampung
terpelosok membuat mentalku kuat. Aku diajarkan untuk tak gampang putus asa
dalam hal apa pun, terutama menyoal agama. Di kampungku, walau yang ada hanya
mushalla, tapi masyarakat di sana sangat taat beribadat. Hal itu juga disebabkan
banyaknya anak-anak desa yang merantau ke kota guna menuntut ilmu di pesantren sekian
lama, lalu pulang dengan menyabet gelar Ustad, Kiai, dan semacamnya. Namun, beberapa
dari mereka yang tak berhasil mengemban amanah itu malah menjadi bandit kota
yang kerjaan sehari-hari tak kurang tak lebih merampok, nyopet, ngemis dan berbagai hal-hal nista lainnya. Biasanya, jika
ada dari kami (anak rantau) yang pulang tanpa membuahkan apa-apa, maka hukuman
yang patut dan harus diterima adalah terusir dari kampung, dan dibiarkan jadi
gelandangan kota. Kampungku termasuk kampung yang menganut paham orang-orang
dulu. Yaitu, marwah keluarga adalah segalanya. Tak sedikit dari mereka yang
merantau itu sudah terjaring oleh penegak hukum, juga ada beberapa teman
sepermainan gundu-ku dulu, kini,
bahkan ada yang menetap di sel tahanan berbulan-bulan.
***
“Jadi, kau masih belum
mengaku?” Wajah Munkar yang semula gahar kini mulai melemas. Sementara Nankir
yang tampak kesal pun berteriak sembari memukul-mukul tanah bekas timbunan itu.
“Dari pada tak ada hasil
seperti ini, bagaimana jika kalian dengarkan ceritaku saja?” Aku menawarkan
kesepakatan. Menyerah, mereka pun mengangguk tanda setuju lalu duduk menungguku
bercerita.
Hari itu aku berencana
menemui adik tingkatan yang ingin menimba ilmu aktivis kelapangan lebih luas
kepadaku. Ia memilihku karena aku sering menjadi pemimpin dalam suatu
penyuaraan hak-hak asasi yang hilang di sini, dan untuk itu ia juga membayarku
per jam. Saban hari kami juga sudah berjanji akan bertemu, dan memang ketika
itu ia tengah masuk di kelas 20,
lantai tiga gedung fakultas tua itu. Maka aku pun menyusulnya dan berniat
menungguinya hingga kelar itu mata kuliah. Membakar sebatang rokok dan
menyandarkan bokong di pembatas dinding. Aku memang kerap memandang ke bawah,
mencondongkan badan ke depan karena angin lebih kuat ketika aku menjulurkan kepala. Tapi, tiba-tiba, dari
arah belakang ada yang menepuk punggungku sehingga aku terkejut dan nyungsup ke bawah dengan kepala duluan yang
menyapa tanah.
“Lalu, kabar angin yang
mengatakan bahwa kau stress hampir gila karena skripsi itu bagaimana?” Nankir
mulai berkata-kata, seakan merasa masih kubodohi.
“Itu hanya rumor, Bung.
Percayalah padaku, aku juga pendoa yang taat seperti kalian, kok!”
Mereka hanya merungut dan
mengusap dagu berkali-kali. Di atas seperti tengah dilandai hujan deras, tanah
menjadi lembab dan dingin. Cacing-cacing mulai menggeliat mendekati bangkaiku
yang padahal belum genap sehari kutinggalkan.
“Tapi kami masih belum yakin
apa yang kau katakan ini adalah benar. Apalagi kaum aktivis sepertimu sudah
sangat lihai berbicara, sementara kami seumur-umur hanya mengabdi pada Tuhan
Yang Maha Esa. Tentulah kami tak sekonyong-konyong bilang iya!”
“Aku juga punya hati nurani,
kok, Kir.” Aku berupaya meyakinkan Nankir yang masih tampak bingung dengan
ceritaku, lalu melanjutkan cerita-cerita mengenai kehidupanku ketika berada di
dunia.
“Bisakah kalian renggangkan
ikatan kafan ini? Tanganku merasa agak sedikit pegal,” lanjutku, di antara alir
air yang merembes ke akar-akar tanaman.
Mereka menurut seolah
keinginannya yang sangat kuat tadi sudah kurenggut. Aku melanjutkan kisah-kisah
hidupku ketika masih kecil di kampung, ketika bersekolah hingga memutuskan
memilih untuk menjadi anak perantauan ke kota dan hidup sebisanya. Sebab aku
tak pula bisa mengharapkan penghasilan dari ladang orang tua, yang, untuk makan
sehari-hari mereka saja masih kurang. Kadang aku ikut bekerja part time, mencuci piring di acara
pernikahan, menjadi juru ketik untuk tugas-tugas yang malas dikerjakan
mahasiswa lain, kadang juga menjadi pembicara di suatu workshop atau mengirim opini-opini tegang ke media massa.
Aku hidup dari jeri payahku
sendiri. Di usia yang semuda ini, aku sudah harus bisa semandiri mungkin untuk
menghadapi kehidupan. Tak jarang pula aku tak makan dalam sehari. Saat-saat
seperti itu kadang kujadikan sebagai amalan. Aku memutuskan untuk berpuasa
ketika itu. Kalian para malaikat, tentu tak tahu bagaimana rasanya lapar,
kecewa terhadap dunia atau diri sendiri, atau merasa telah gagal pernah dilahirkan.
Dan ketika aku memiliki sedikit rejeki, aku juga terus bersedekah karena telah
merasakan hidup yang payah, dan tak ingin ada orang yang lebih merasa kesulitan
dariku.
Aku belajar untuk hidup
susah agar nantinya tak begitu sulit memasuki kehidupan yang sebenarnya. Tapi,
walaupun hidupku susah, tak pula pernah aku berniat untuk bunuh diri. Tuhan,
dalam keyakinanku selalu memberi jalan kemudahan bagi kaum yang taat kepadanya.
Seperti saat ini, bukankah seharusnya kalian menyiksaku?
Menginterogasiku seperti polisi-polisi terdahulu yang diperintah untuk membuat
seorang tersangka mengaku dengan melakukan cara apa pun? Tuhan maha pengampun,
begitu juga kalian seharusnya.
“Ceritamu begitu menyentuh.
Apa hidupmu benar sesulit itu? Di surga, kami tak pernah mendapati kesulitan.
Atau mungkin kami memang tak diberikan hak untuk memperolehnya. Kami hanya
melakukan ritual-ritual yang itu-itu melulu. Menyembah Tuhan dari pagi hingga
malam hingga pagi kembali tak henti-henti. Kalian beruntung memiliki akal dan
perasaan yang tak jarang berjalan tidak searah. Mungkin itu pula yang dinamakan
bumbu kehidupan.” Munkar mengusap
matanya yang merah sementara Nankir berupaya untuk terlihat kukuh dan tangguh.
Subuh pun tiba. Azan menggema
sampai ke dalam tanah, tepat saat aku selesai bercerita. Aku lega, begitu juga
mereka. Kami merasa sudah tidak ada lagi yang harus dipertentangkan lagi. Semua
sudah diusut dengan tuntas, oleh ceritaku juga bekas lecutan cambuk-cambuk
mereka.
“Sudah waktunya kami pergi,”
ucap Munkar sambil mengeratkan kembali ikatan kain kafanku. Munkar dan Nankir,
akhirnya kembali berdiri dan berpamitan.
Aku tersenyum geli melihat
tingkah mereka yang semula sangat garang dan kasar itu meleleh seperti tumpahan
es. Aku tak menyangka, ilmu yang kudalami sedemikian rupa ini mampu menaklukkan
ketaatan malaikat kepada Tuhannya.
***
Rabu, 11 Maret 2015
Beberapa Puisi di Riau Pos, 8 Maret 2015.
Fake Plastic Tree
Engkau biarkan pohon-pohon itu terluka
menanti dahaga yang kaujanjikan di
kemudian hari.
“mencintaimu seperti kesedihan pohon-pohon
plastik yang tertata rapi dalam etalase-etalase berdebu”
Seekor anjing—barangkali pria—menunggu setelah
kauputuskan untuk mencari kepastian di
antara takdir getir hidup dan petir di langit kali
ini. Dan rahasia mana lagi yang kau coba ungkap
ketika, bahkan dirimu bungkam dalam menentukan
pilihan terbaik kelak?
Mungkin saat ini bumi kiranya tak lebih dari
plastik-plastik yang mendiami tong sampah
dan kau berada di antara tumpukan-tumpukan
kumuh itu. Bergumul dengan pelik hidup nan
mencekik.
Burung-burung membayang di langit selatan
menuju utara, kau memperhatikan dari jeruji
besi seperti burung yang terkurung dan sangat
ingin terbang. Kaubayangkan sekiranya hidup
adalah menghadapi apa yang terjadi, ke manakah
kau bisa terbang dan membayangkan tidak
seperti ini:
terbuang di antara cakar dan taring anjing yang lapar.
Pekanbaru, 2014.
After You
Tiba-tiba angin memanggilmu setelah beberapa suku kata yang kuucapkan
tak jua kautancapkan ke bayang-bayang daun yang
pelan-pelan
menjauh.
“Ternyata, bayangan, lambat laun akan hilang, tanpa kuinginkan.”
Ucapmu, lantas pergi.
Di peron terakhir, kereta api berhenti dengan hati-hati.
“Siapa lagi, siapa lagi yang akan kumatikan?”
Pekanbaru, 2014.
Versus
Telah kausebat dadaku nan gerimis dengan
amis tangis. Sisa bulir hujan tandas dan terpaksa
jatuh di atas genting, ranting dan pelepah
pisang yang mengering. Mengikut lipur angin
bergelinding memecah dinding.
Selalu dalam malam-malam diam mimpiku
berjalan mencari rusukku yang sembunyi. Selalu bau tanah
sehabis hujan buatku lupa akan aroma surga
yang kukira terjerat dalam dadamu.
Kau tak bisa membedakan pertemuan
yang kutandai dengan almanak lainnya, mengingatkanmu
pada masa-masa pahit. Mataku langsung
buta, ingatanku melupa. Ucapmu sesaat kembang yang kuhidang
menjadi layu, terbuang.
Ada cahaya di puncak igaumu, seperti
kilau pedang yang menyelamatkan desa kota dan negara
namun tak mampu menyelamatkan dirinya.
Namun tetap, kilau pedang nan melegenda
itu bukanlah lawan tepat untuk matamu yang tajam. Dan
matamu yang tajam barangkali penyemat kehidupan
yang baik.
Barangkali, Cinta, cinta bukanlah suatu
amar yang melelahkan atau nahi yang mengancam
urat nadi.
:Seperti sebilah pedang, yang terancam dirinya sendiri.
Pekanbaru, 2014.
Iman
Adakah kesepian, di antara kelir cahaya—jumawa dalam nestapa kelam.
Kau menaruh siaga pada malam yang rombeng. Sunyi telah sudi mengijinkan
sepasang matamu berbinar, memantulkan nanar pada pendar jelaga langit. Dan
anginku yang liar sesungguhnya dinubuatkan keangkuhan semata.
Kau tak yakin dalam hidup, benarkah ada cinta yang dini sekiranya napas
berdengus berlari dari peraduan malam yang tak henti-hentinya
mengetuk mimpi. Tapi kau tahu, tabiatku sesungguhnya ialah ceruk bagi
perangai nan nifak. Semenjak cinta dibunuh dan kau menanggungnya,
dengan putus asa.
Kini, kau pun terbiasa berduka dan tidak merasa sia-sia.
Pekanbaru, 2014.
Perkabungan Sunyi
Di dinding kamar ini aku suka menulis puisi.
melumurinya dengan cat warna-warni
sebatas mengungkap isi hati.
Sangat hati-hati kupoles itu dinding dengan
bekas-bekas luka, dengan ingatan yang
tersisa, tak lupa pula kulukis langit, yang
sering sinis memandang aku.
Dari ventilasi masuklah seserpih cahaya,
angin dan jerebu. Kadang juga kumbang
dan kupu-kupu. Kemudian entah karena
apa, cahaya jerebu kumbang kupu-kupu
dan segala yang memasuki kamarku melukis
dirinya di dinding. Seperti ingin bergabung
di perkabungan sunyi ini.
Pekanbaru, 2014.
Reky Arfal
penggiat Malam Puisi Pekanbaru. Mahasiswa UIN SUSKA Riau, jurusan Ilmu Hukum.
Engkau biarkan pohon-pohon itu terluka
menanti dahaga yang kaujanjikan di
kemudian hari.
“mencintaimu seperti kesedihan pohon-pohon
plastik yang tertata rapi dalam etalase-etalase berdebu”
Seekor anjing—barangkali pria—menunggu setelah
kauputuskan untuk mencari kepastian di
antara takdir getir hidup dan petir di langit kali
ini. Dan rahasia mana lagi yang kau coba ungkap
ketika, bahkan dirimu bungkam dalam menentukan
pilihan terbaik kelak?
Mungkin saat ini bumi kiranya tak lebih dari
plastik-plastik yang mendiami tong sampah
dan kau berada di antara tumpukan-tumpukan
kumuh itu. Bergumul dengan pelik hidup nan
mencekik.
Burung-burung membayang di langit selatan
menuju utara, kau memperhatikan dari jeruji
besi seperti burung yang terkurung dan sangat
ingin terbang. Kaubayangkan sekiranya hidup
adalah menghadapi apa yang terjadi, ke manakah
kau bisa terbang dan membayangkan tidak
seperti ini:
terbuang di antara cakar dan taring anjing yang lapar.
Pekanbaru, 2014.
After You
Tiba-tiba angin memanggilmu setelah beberapa suku kata yang kuucapkan
tak jua kautancapkan ke bayang-bayang daun yang
pelan-pelan
menjauh.
“Ternyata, bayangan, lambat laun akan hilang, tanpa kuinginkan.”
Ucapmu, lantas pergi.
Di peron terakhir, kereta api berhenti dengan hati-hati.
“Siapa lagi, siapa lagi yang akan kumatikan?”
Pekanbaru, 2014.
Versus
Telah kausebat dadaku nan gerimis dengan
amis tangis. Sisa bulir hujan tandas dan terpaksa
jatuh di atas genting, ranting dan pelepah
pisang yang mengering. Mengikut lipur angin
bergelinding memecah dinding.
Selalu dalam malam-malam diam mimpiku
berjalan mencari rusukku yang sembunyi. Selalu bau tanah
sehabis hujan buatku lupa akan aroma surga
yang kukira terjerat dalam dadamu.
Kau tak bisa membedakan pertemuan
yang kutandai dengan almanak lainnya, mengingatkanmu
pada masa-masa pahit. Mataku langsung
buta, ingatanku melupa. Ucapmu sesaat kembang yang kuhidang
menjadi layu, terbuang.
Ada cahaya di puncak igaumu, seperti
kilau pedang yang menyelamatkan desa kota dan negara
namun tak mampu menyelamatkan dirinya.
Namun tetap, kilau pedang nan melegenda
itu bukanlah lawan tepat untuk matamu yang tajam. Dan
matamu yang tajam barangkali penyemat kehidupan
yang baik.
Barangkali, Cinta, cinta bukanlah suatu
amar yang melelahkan atau nahi yang mengancam
urat nadi.
:Seperti sebilah pedang, yang terancam dirinya sendiri.
Pekanbaru, 2014.
Iman
Adakah kesepian, di antara kelir cahaya—jumawa dalam nestapa kelam.
Kau menaruh siaga pada malam yang rombeng. Sunyi telah sudi mengijinkan
sepasang matamu berbinar, memantulkan nanar pada pendar jelaga langit. Dan
anginku yang liar sesungguhnya dinubuatkan keangkuhan semata.
Kau tak yakin dalam hidup, benarkah ada cinta yang dini sekiranya napas
berdengus berlari dari peraduan malam yang tak henti-hentinya
mengetuk mimpi. Tapi kau tahu, tabiatku sesungguhnya ialah ceruk bagi
perangai nan nifak. Semenjak cinta dibunuh dan kau menanggungnya,
dengan putus asa.
Kini, kau pun terbiasa berduka dan tidak merasa sia-sia.
Pekanbaru, 2014.
Perkabungan Sunyi
Di dinding kamar ini aku suka menulis puisi.
melumurinya dengan cat warna-warni
sebatas mengungkap isi hati.
Sangat hati-hati kupoles itu dinding dengan
bekas-bekas luka, dengan ingatan yang
tersisa, tak lupa pula kulukis langit, yang
sering sinis memandang aku.
Dari ventilasi masuklah seserpih cahaya,
angin dan jerebu. Kadang juga kumbang
dan kupu-kupu. Kemudian entah karena
apa, cahaya jerebu kumbang kupu-kupu
dan segala yang memasuki kamarku melukis
dirinya di dinding. Seperti ingin bergabung
di perkabungan sunyi ini.
Pekanbaru, 2014.
Reky Arfal
penggiat Malam Puisi Pekanbaru. Mahasiswa UIN SUSKA Riau, jurusan Ilmu Hukum.
Sabtu, 29 November 2014
Sudah Berapa Cangkir Kopimu Hari Ini?
Ada apa #DiBalikSecangkirKopi? Kenangan yang meruap, kah? Perasan perasaan-perasaan gundah atau seseorang yang menyembulkan kopinya karena lupa memasukkan gula?
Barangkali kita memiliki definisi masing-masing. Tetapi tentunya, bagi saya secangkir kopi adalah filosofi.
Dee Lestari pernah menuliskan:
"Pengalaman paling pahit adalah minum kopi tanpa gula."
Sebagai penikmat kopi pahit sudah semestinya saja setuju. Sebab, seperti yang kita ketahui tersirat makna bahwa;
pahitnya masa lalu, bagaimana pun tidak akan pernah semurni kepahitan biji kopi.
Pernyataan Dee Lestari di atas juga bisa dikaitkan dengan kutipan salah satu puisi Joko Pinurbo dengan judul Surat Kopi, berbunyi :
"Mungkin karena itu empat cangkir kopi
sehari bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri."
Lantas, sudah habis berapa cangkir, kah, kopimu hari ini?
Facebook: Reky Arfal
Twitter : @rekyarfal
Email : reqy.arfal@gmail.com
Jumat, 23 Mei 2014
selamat ulang tahun, Adis.
22 Mei, 2014
Pagi di Pekanbaru sedang dilanda sendu
Embun-embun yang berguguran, darahnya (yang bening)
bercucuran di jendela, dan
Mata seseorang yang masih terjaga
Matahari yang malu-malu, dan dedaun yang tersiram embun
mempertegas kamis,
Yang dipenuhi gerimis
Namun tak lama setelah itu (tepatnya setelah hari mulai
cerah dan gerimis mulai habis), pelangi
Bertandang melingkari langit, dan wajah seorang perempuan
Yang (dengan kesimpulanku sendiri) sedang riang.
~Selamat ulang tahun,
Adis. :)
Langganan:
Postingan (Atom)

