:Resty Rahma Sari
maka simpanlah kesedihanmu itu rapat-rapat
atau jugabisa kaukubur di garis pantai, puncak gunung
dan di segala tempat yang takingin kaukunjungi
biarkan dinginombak dan panaslarva menghapusnya perlahan
seperti dia yang kaucintai, menghapusku pelan-pelan
bulan separuh masak, bintang-bintang
menjulurkan tangan ke berbagai sisi dunia
mungkin berharap akan ada yang menggapainyya
seperti menangkap dan menangkup
impiantercerai di sudut-sudut langit
menjelma awan--danhujan
akulah hutan yangtak pernah kaukunjungi. maka
cukuplah kesedihan itu menyambangi
setiapmusimku. menyubur-gugurkan
daun-daunku
tapi adakah sedikit cahaya yang kaubuang
lalu susut di gelegar sunyiku?
kulit rapuhku butuhhangat
hingga tubuhpenat
biarsaja gugur segala, mungkin akan jadi kering
yangabadi dan aku akan terkubur di suatu
pulau yang landai, di lembut desir pantai
dasar laut dan tebing langit
maka simpanlah kesedihanmu itu. sebab aku telah
menyimpan kesedihanku--daridulu.
Senin, 14 April 2014
Senin, 07 April 2014
hujan di penghujung maret.
:Hasan Junus
hujan panjang datang di bulan maret
mungkin sepanjang usiamu, atau barangkali
sepanjang ingatan
yang mengekalkan namamu. juga ada tangis dan
isak yang seret, berderet mengalun
mendendang kepergian
di penghujung maret
maka bingkailah kecintaan seperti
memuja tuhan. kubayangkan betapa hitam takdir dan bebatuan
akan mencair seperti kesedihanku. tapi mengapa tuhan begitu elok, mengangkatmu dari dosa-dosa yang
mencintaimu?
hutan pantai gunung langit menangis, sepertiku. menangis
seperti bulan maret
hujan datang di penghujung maret
seperti menangis
setiap tahun
hujan panjang datang di bulan maret
mungkin sepanjang usiamu, atau barangkali
sepanjang ingatan
yang mengekalkan namamu. juga ada tangis dan
isak yang seret, berderet mengalun
mendendang kepergian
di penghujung maret
maka bingkailah kecintaan seperti
memuja tuhan. kubayangkan betapa hitam takdir dan bebatuan
akan mencair seperti kesedihanku. tapi mengapa tuhan begitu elok, mengangkatmu dari dosa-dosa yang
mencintaimu?
hutan pantai gunung langit menangis, sepertiku. menangis
seperti bulan maret
hujan datang di penghujung maret
seperti menangis
setiap tahun
Kamis, 13 Februari 2014
bukan fiksi mini.
ada sebuah legenda yang menceritakan tentang bagaimana sepasang burung tanpa sayap dapat terbang. baiklah. ini bukan legenda. ini hanya karanganku saja.
**
mulanya mereka, sepasang burung gereja itu berjalan dari arah yang berbeda. ya, berjalan. sebab tidak memiliki sayap. dari atap ke atap, dengan berhati-hati mereka saling melompat. melompati atap, melompati ketakutan.
di atap pertama, langkah goyah. sementara kecemburuan kepada teman sepermainan sudah membungkam tabah. lalu melompatlah sepasang burung itu dari tempat masing-masing dengan menutup mata. namun tidak menutup harapan.
burung-burung itu tidak terlalu berjauhan. mereka hanya dipisahkan tiga atap yang jaraknya pun tidak terlalu berjauhan.
lalu dengan senyum sumringah di wajah dan tekad yang melebihi tabah, mereka bersamaan berlari. melompat lebih tinggi. menutup mata namun tidak hati.
lagi-lagi mereka tersenyum sambil membuka mata dan menatap semesta. dan mereka pun bertatapan.
"loh, sayap kamu mana?"
"aku terlahir tanpa sayap.""
keduanya sejenak terdiam. hingga terhenti ketika salah satu burung gereja itu bergumam.
"mari melompat bersamaan. namun kali ini tidak menutup mata. sebab jika aku atau pun kau yang duluan tiba, setidakya salah satu dari kita punya banyak cerita untuk dijadikan legenda."
mereka melompat bersamaan. namun kali ini tidak menutup mata. terpancar nanar harapan di sepasang mata masing-masing.
"aku akan terbang! kita akan terbang!"
tanpa sadar, sepasang burung itu terbang. terbang dari jasadnya.
Pekanbaru
14 Februari, 2014
**
mulanya mereka, sepasang burung gereja itu berjalan dari arah yang berbeda. ya, berjalan. sebab tidak memiliki sayap. dari atap ke atap, dengan berhati-hati mereka saling melompat. melompati atap, melompati ketakutan.
di atap pertama, langkah goyah. sementara kecemburuan kepada teman sepermainan sudah membungkam tabah. lalu melompatlah sepasang burung itu dari tempat masing-masing dengan menutup mata. namun tidak menutup harapan.
burung-burung itu tidak terlalu berjauhan. mereka hanya dipisahkan tiga atap yang jaraknya pun tidak terlalu berjauhan.
lalu dengan senyum sumringah di wajah dan tekad yang melebihi tabah, mereka bersamaan berlari. melompat lebih tinggi. menutup mata namun tidak hati.
lagi-lagi mereka tersenyum sambil membuka mata dan menatap semesta. dan mereka pun bertatapan.
"loh, sayap kamu mana?"
"aku terlahir tanpa sayap.""
keduanya sejenak terdiam. hingga terhenti ketika salah satu burung gereja itu bergumam.
"mari melompat bersamaan. namun kali ini tidak menutup mata. sebab jika aku atau pun kau yang duluan tiba, setidakya salah satu dari kita punya banyak cerita untuk dijadikan legenda."
mereka melompat bersamaan. namun kali ini tidak menutup mata. terpancar nanar harapan di sepasang mata masing-masing.
"aku akan terbang! kita akan terbang!"
tanpa sadar, sepasang burung itu terbang. terbang dari jasadnya.
Pekanbaru
14 Februari, 2014
Sabtu, 23 November 2013
Thanks, God. It's Social Media!
"kita udah mentionan aja nih. tapi kok tetep ada yang kurang, ya. oh iya, follback dong."
ucapku setelahnya meletakkan username twittermu .senyum tipis yang tertahan lama di bibirku, sembari menatap avatar yang berwarna keemasan itu. ya, dia mengedit segala apa yang tampak kurang olehnya.
hari demi hari, di tiap pagi, aku tidak lagi mendahulukan mandi. melainkan menyambung percakapan yang terputus oleh kantuknya semalam. seperti halnya manusia berkenalan, aku juga menanyakan segala hal yang sama tentangnya, namun kali ini berbeda. yakni;dengan sedikit rasa bahagia. senyum tipis yang hanya pernah ada sewaktu dulu itu, kini malah menjadi pelangi beku, di bibirku.
"selamat pagi, bidadari."
seperti sia-sia yang menjatuhkan buah, detik, menit, pun jam, menunggu itu terasa menyenangkan. notebook berdebu yang sedari tadi aku pangku, dan, ``ting nong'', ucap notebook tanda pemberitahuan yang sedaritadi ku nanti.
"tapi ini sudah siang mas reky."
"aku dengar-dengar cewek suka diperhatiin, yah? yaudah.. kamu udah makan, belum?"
"suka dong. udah ini mau makan, kamu"
"suka dong. udah ini mau makan, kamu"
"aku mah, liatin kamu aja udah kenyang. eh, aku tinggal bentar, ya. mau uts. kamu jaga hati. awas kalo sampe dicuri!"
"jiahahaa iyadeh goodluck ya buat uts nya."
kitapun saling berbalas pesan. terus-menerus. aku tertawa, entahlah kau di sana. beberapa rayuan kecil yang pernah aku pelajari ketika menggosok gigi, pun sering terlontar oleh jemari. seperti..
"jiahahaa iyadeh goodluck ya buat uts nya."
kitapun saling berbalas pesan. terus-menerus. aku tertawa, entahlah kau di sana. beberapa rayuan kecil yang pernah aku pelajari ketika menggosok gigi, pun sering terlontar oleh jemari. seperti..
"kamu tuh buat aku gila. tiap memikirkanmu, aku senyum-senyum sendiri"
mungkin terdengar menggelikan. namun itulah nyatanya. aku seperti orang gila yang tidak tahu apa-apa. menganggap dunia tidak ada. dan menganggap kamu sebagai segala bahagia.
kita belum bertemu, namun aku telah dikerubungi rindu. beberapa tentang kamu yang dulu mencoba masuk ke dalam ingatanku yang dipenuhi masa lalu, kini malah seperti mesin debu yang menyapu segala kesedihanku.
dalam beberapa waktu ke depan,
mungkin aku akan terus seperti ini. mencoba menyaingi rasa malu sendiri,
agar dapat dicintai oleh seseorang yang bahkan tak pernah ditemui.
semoga saja, kita dipertemukan dalam suatu hal yang sama tujuan. semoga..
***
Senin, 18 November 2013
"Aku Mencintainya, Yah."
Di sudut rumah itu, segala kejadian dimulai. Seorang ibu muda, menggendong anaknya yang entah siapa ayahnya..
"Rini, mengakulah. Aku tak akan membunuhnya. Aku hanya ingin ia bertanggung jawab.."
Sembari menatap sang ayah yang memegang cambuk, ia memegang luka-luka memar di betisnya. Ia menangis.
"Aku mencintainya, Yah."
"Rini, mengakulah. Aku tak akan membunuhnya. Aku hanya ingin ia bertanggung jawab.."
Sembari menatap sang ayah yang memegang cambuk, ia memegang luka-luka memar di betisnya. Ia menangis.
"Aku mencintainya, Yah."
Jumat, 26 April 2013
"Pagi, dan Kamu."
tak ada yang lebih indah dari pagi yang masih sibuk mencari jati diri, dan satu pesan baru. yang berasal dari kamu. "selamat pagi" ucapmu. lalu aku tersipu malu.
sepertinya masa lalu sudah tak berlaku, sebab aku telah bertemu sesuatu yang baru;kamu.
pagi, dan kamu. dua hal yang aku anggap, yang aku buat sebagai segala
yang melebihi suci. tetesan embun jatuh dari kelopak mata langit,
mengenai wajahku. segar. sangat segar. meski tak sesegar hatiku. setelah
ada kamu.
malam sudah tak terlalu berarti lagi. bahkan juga mimpi. mengapa aku
harus tertidur untuk bermimpi, jika dengan mata terbuka, ada sesosok
indah yang melebihi indah-indahnya alam semesta?
pagi, dan kamu. semoga saja, hingga waktu yang menjemputku, tak ada pagi-pagi yang tanpa kamu.
tak perlu selamanya. cukup saja, hingga waktu yang memanggilku, kamu masih ada di sini, bersama pagi-pagi yang tak pernah mati~
Langganan:
Postingan (Atom)